Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.
* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.
* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu.
Selasa, 18 Juni 2013
Kebijakan Moneter
Kebijakan Moneter
- Konsep Kebijakan moneter
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah dibidang keuangan yang berkenaan dengan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Pemerintah selalu mengusahakan agar selalu ada keseimbangan yang danamis antara jumlah uang yang beredar dengan barang dan jasa dalam masyrakat. Dengan demikian maka kemakmuran rakyat akan meningkat. Kebijakan meoneter tidak berdiri sendiri tetapi berbarengan dengan kebijakan fiskal, kebijaksanaan keuangan internasional dan kebijaksanaan pemerintah lainnya
Adapun tujuan kebijaksanaan kebijakan moneter secara umum adalah
- Untuk menyesuaikan jumlah uang yang beredar di dalam masyarakat
- Untuk mengarahkan penggunaan uang dan kredit sedemikian rupa, sehingga nilai uang negara yang bersangkutan dapat dipertahankan kestabilannya
- Mendorong produsen untuk meningkatkan produksi, apabila denga mudah mendapatkan kredit denga bunga yang rendah
- Paling sedikat akan dapat mempertahankan tingkat pengangguran yang telah ada dan selanjutnya berusaha agar meningkatkan tingkat employment tertentu
- Mengusahakan agar kebijaksanaan moneter dapat dilaksanakan tanpa memberatkan beban keuangan negara dan masyarakatUntuk mencapai tujuan tersebut maka cara yang dapat dilakukan adalah:
- Menetapkan cash ratio, yaitu menetapakan perbandingan antara persentas uang di bank yang harus dijadikan cadangan dan boleh dioperasikan
- Kebijaksanaan pasar terbuka, kebijakan ini berkaitan penjualan surat-surat berharga dari bank sentral . apabila jumlah uang yang beredar dalam masyrakat dirasa terlalu banyak, maka pemerintah akan menaikkannya kembali melalui penjualan surat-surak berharga yang dilakukan oleh bank sentral dan sebaliknya jika jumlah uang yang beredar dalam masyarakat terlalu sedikit, maka untuk menambah jumlah uang yang beredar tersebut bank sentral akan membeli surat-surat berharga dari masyrakat dengan harga yang lebih tinggi
- Kebijakan suku bunga, untuk menambah atau mengurangi uang yang berdar dalam masyarakat, maka suku bunga kredit dapat memainkan peranannya, maka untuk menyedot persentase suku bunga kresit lebih tinggi dengan demikian peminta kredit akan lebih kurang
- Kebijakan suku bunga deposito, apabila jumlah uang yang beredardalam masyarakat berlebihan, maka untk mencegah jangan sampai semakin banyak uang yangberedar, bank menaikkan persentase suku bunga depositonya.dengan demikian makaorang akan banyak mendepositokan uangnya di bank
Selanjutnya untuk menjaga stabilitas jumlah uang yangberedar ini, pemerintah melaui kebijakan bank sentral dapat melakukan kebijakan, yaitu:
- Kebijakan uang ketat
- Kebijakan uang longgar
Berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatur jumlah uang yangberedar maka ada beberapa keadaan yang harus dicermati yaitu:
- Inflasi, yaitu suat keadaan dimana nilai uang menurun secar terbuka, akibatnya harga barang-barang pada umumnya naik
- Deflasi, yaitu kenaikan nilai uang secara terbuka dan harga barang-barang menurunTerjadinya inflasi dan devlasi ini dapat disebabkan oleh:
- penyebab dari laur negeri, jika ekspor lebih bessar dari pada impornya tanpa diimbangi bertambahnya barang/ jasa yang sepadan, akan terjadi inflasi. Dan begitu juga Sebaliknya
- penyebab dari dalam negeri, (kebijakan fiskal), apabila realisasi kebijakan anggaran menunjukkan pengeluaran pemerintah itu lebih besar dari pad penerimaannya maka akan menjadi timbulnya inflasi. Tetapi jika belanja pemerintah lebih kecil dari penerimaannya maka akan terjadi deflasi
- penybab dari dalam negeri (swasta), sektor swasta dalam halini terutam masalah tabungan dan investasi dan konsumsi. Jika pendapatan masyarakat lebih banyak dipergunakan untuk membeli barang dan jasa dari pada ditabung maka akan mengarah kepada inflasi. Dan jika pendapatan masyarakat lebih banyak diinvestasikan dari pada ditabung serta jika masyarakat banyak mengkonsumsikan pendapatannyanaka akan banyak mengarah kepada inflasi
- Perkembangan Kebijakan Moneter
untuk lebih memperjelas mengenai kebijakan moneterberikut ini dijelaskan praktek kebijakan moneter diindonesia.
Perkembangan kebijakan moneter perbankkan diindonesia sejak orde barupada dararnya dapat dibagida;am tiga periode yaitu:
- periode stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi,
pada periode ini kebijaka ndimaksudkan untuk mengatasi perekonomia pada saat itu sangat memperihatinkan, yaitu tingginya inflasi yang mencapai tiga digit (650%-750%)
sehubngan dengan itu mak sejak tahun 1966 pemerintah melakukan program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomian antara lain usaha yang berkaitan dengan hal-hal berikut :
- pengendalian laju inflasi ketingka yang lebih aman
- peningkatan kegiatan ekspor
- pencukupan sandang
kebijakan ini ditempuh pertama malalui kebijaka APBN yang berimabang sehingga akan diharapakan menghapuskan sumber utama inflasi, dan kedua melalui kebijakan perkeriditan. disamping itu dalam rangka meningkatkan mobilitas dana masyarakat sebagai sumber pembiayaan pembangunan sekaligus untuk mengurangi laju pertumbuhanuang beredar, maka dnegan inpres no 28 tahun 1968 ditetapka ketentua sebagai berikut:
- menawarkan tingkat suku bunga depositi yang tinggi
- bebas pengusutan asal usul ytang di depositokan
- jaminan pengemablian atas simpanan oleh bank indonesia
- opengetatan rahasia bank terhadpaa pemilik deposito
- periode disaat ekonomi ditunjang pendapatan sektor minyak
Dalam upaya meningkatkan pengerahan dana masyarakat pemerintah menyediakan kredit likuiditas bank indonesia yang mempoerbesar kemampuan perbankan dal mepnyaluran kredit yang akhirnya meningkatkan jumlah uang yang berdar
Kebijakan moneter yangtempuh pemerintah saat itu antara lain
- penetapan pagu kredit , dengan cara mentapkan bats pertambahan kredit dan aktifa lainnya
- menaikkan suku bungakredit bank bank-bank pemerintah
- menaikkan persentase cadangan likuiditas wajib
- periode deregulasi kebijakan moneter dan perbankkan
Pada tahun 1982 ekonomi indonesia mengalami resesi sebagai dampak dari resesi dunia. Hal ini nampak pada penurunan produk domestik bruto dan neraca pambayaran. Untuk mengatsi situasi buruk ini, pemerintah mengambil langkah-langkah kebijakan termasuk kebijakan moneter
Selain iitu pemerintah berturut-turut mengeluarkan pokok kebijaksanaan yang pada dasarnya merupaka deregulasi yaitu:
- paket kebijaksanaan 1 juni 1982
- penghapus pagu kredit dan aktifa lainnya
- mengurangi kredit likuiditas bank indonesi kecuali untuk sektor yang di prioritaskan
- membari kebebasan bagi bank untuk menetapkan suku bunga deposito maupun kredit kecuali sektor yandi prioritaskan
- paket kebijaksanaaan 27 okt 1988
- pengerahan dana masyarakat
- ekspor non migas
- efisiensi lembaga lembagakeuangan dan perbankan
- kemampuan pengendalian palaksanaan moneter
- iklim pengembangan pasar modal
- paket kebijaksanaan 20 des 1988
- penyelenggaraan bursa efek oleh swasta
- pembukaan buras efek di beberapa kota
- ketentua perdagangan di bursa efek di jakarta
- penyediaan alternatif sumber pembiayaan pembangunan untuk mendukung kegiatan produktif
- bank dan LKBB dapat melakukan kegiatan perdagangan surat berharga, usah kartu kredit, usah anjak piutrang dan usaha pembiayaan konsumen sebagai bagian dari kegiatan usahanya
- membuka kesempatan mendirikan perusahaan asuransi kerugian, jiwa, reasuransi, broker asuransi dll.
- Paket kebijaksanaan 25 maret 1989
- Peleburan usah atau marger dan penggabungan usah bagi bank umum swasta nasional, BPR
- Penyempurnaan ketentuan tentang pendirian dan usaha BPR
- BPR dapt meningkatnakan usahanya menjadi bank umum baik dengan cara melakukan persyaratan, marger ataupun konsolidasi dengan bank umum yang telah ada
- Lembaga dana atau kredit pedesaan diberikan status yangsama dengan BPR
- Pemilik modal bank campuran
- Pengertian kredit ekspor
- Pengerti modal sendiri bagi bank dan LKBB
- batas maksimum pemberian kredit p[ada debitur dan debitur grup serta pengurus pemegang saham dan keluarganya
- penggunaan tenaga kerja profesional warga negera asing
- penyempurnaan tata cara perhitunga likuiditas wajib minimum bank
- ketentuan posisi defisa netto
- pengawasan dan pembinaan LKBB kredit investasi dan penyertaan modal
- paket kebijaksanaa 29 januari 1990
- kerdit usah tani
- kredit kepad koperasi
- kredit pengadaan pangan dan gula
- kredit Investasi
- kredit umum dan usaha kecil
- paket kebijaksanaan 29 mei 1993
- capital adequaci ratio (kewajiban penyaediaan modal minimum)
- batas maksimum pemberian kredit
- kredit usah kecil
- pembentukan cadangan piutang
- penilaian tingkat kesehatan bank
Kamis, 30 Mei 2013
PERANAN EKSPOR DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
Nama : AFIATI RIZKI
Perkembangan
ekspor migas menurut kelompok produk yang dihasilkan yaitu : minyak mentah, hasil
Kelas : 1EB08
Mata kuliah : Perekonomian Indonesia
ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peranan ekspor dalam perekonomian Indonesia. Data yang digunakan adalah data
sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik, Jakarta- Indonesia. Kontribusi
ekspor non migas terhadap total ekspor relative besar berkisar antara
73,53%-83,88% selama periode 1993-2008. Besarnya kontribusi ini ditunjang oleh
ekspor hasil industri.
Peranan ekspor dalam perekonomian dilihat
dari besarnya angka multiplier ekspor dan elastisitas ekspor. Angka multiplier
ekspor untuk variabel total nilai ekspor, migas, non migas, masing-masing 47,423,
229,284, dan 52,605. Sedangkan untuk variabel nilai ekspor minyak mentah, hasil
minyak dan gas alam masing-masing 566,044, 1579,168 dan 477,136. Angka
multiplier ekspor untuk variabel nilai ekspor hasil pertanian, hasil industri
dan hasil tambang diluar migas masing-masing 1299,844, 65,406
dan 290,930.
Angka elastisitas ekspor variabel nilai total
ekspor, migas dan non migas masing-masing 1,79, 1,86, dan 1,74. Angka
elastisitas ekspor variabel nilai ekspor minyak mentah, hasil minyak dangas
alam masing-masing 2,02, 1,46, dan1,75. Angka elastisitas ekspor variabel nilai
ekspor hasil pertanian, hasil industry, dan hasil tambang masing-masing 2,48,
1,82, dan 0,94.
PENDAHULUAN
Ekspor merupakan
salah satu variable injeksi dalam perekonomian suatu negara, artinya jika
ekspor suatu negara meningkat maka perekonomian negara tersebut akan lebih
meningkat lagi, karena adanya proses multipler dalam perekonomian tersebut.
Ekspor adalah barang dan jasa yang
diproduksi didalam negara dan dijual diluar negeri. (Mankiw, 2004: 240). Jika
suatu negara membuka perdagangan internasional dan menjadi pengekspor suatu
barang, maka produsen domestic barang tersebut akan diuntungkan dan konsumen
domestic barang tersebut akan dirugikan. Pembukaan perdagangan internasional
akan menguntungkan negara yang bersangkutan secara keseluruhan karena keuntungan
yang diperoleh melebihi kerugian nya (Mankiw, 2006 : 221).
Dalam analisis
keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka diandaikan Ekspor merupakan
pengeluaran otonomi, yaitu ia tidak ditentukan oleh pendapatan nasional. Ekspor
terutama ditentukkan oleh harga relative barang dalam negeri dipasaran luar
negeri, kemampuan barang dalam negeri untuk bersaing dipasaran dunia, dan
citarasa penduduk di negara-negara lain terhadap barang yang diproduksikan
suatu Negara (Sukirno, 2004 : 222).
Dari
studi pertumbuhan ekonomi selama periode 1968 – 1984 yang dilakukan oleh Bela
Balassa (1986) terhadap sekelompok luar negara-negara yang sedang berkembang
yang dibedakan antara negaranegara yang berorientasi keluar (Outward – Oriented
Countries) dan Negara-negara yang berorientasi kedalam ( Inward- oriental
countries) menemukan bahwa negara-negara yang menerapkan strategi
pembangunan
yang berorientasi keluar memiliki kinerja pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih
baik
dari
pada negara-negara yang menerapkan strategi pembangunan yang berorientasi
kedalam atau substitusi impor
Berdasarkan
studi dilakukan Hollis Chemery terhadap 20 negara yang sedang berkembang
menemukan bahwa total input productivity total meningkat diatas 3 persen
pertahun di negara-negara yang menerapkan Outward oriented atau export- led
strategies, sedangkan negara-negara yang menerapkan inward – oriented
pertumbuhannya hanya 1 persen (Nanga, 2005 : 302).
Perumusan
masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
1.
Berapa besar luar
peranan total ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia
2.
Berapa besar peranan
ekspor migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia
3.
Berapa besar peranan
ekspor non migas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia
Tujuan
Penelitian ini ingin mengetahui peranan ekspor terhadap perekonomian (PDB) di
Indonesia
METODE PENELITIAN
Metode
yang digunakan dalam tulisan ini adalah telaah pustaka yang ditunjang dengan
analisis deskriptif kuantitatif terhadap data-data sekunder. Data sekunder yang
digunakan adalah data perkembangan ekspor dan Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Jakarta.
Untuk
mengetahui peranan ekspor tersebut digunakan persamaan Regresi Linear sederhana.
Y
= a + b xi
Y
= Produk Domestik Bruto (PDB) (miliar rupiah)
Xi
= Nilai ekspor → I =1,2,3.
X1
= Nilai Total ekspor (juta US $)
X2
= Nilai total ekspor migas (juta US $)
X3
= Nilai total ekspor non migas (juta US $)
a
= Konstanta
b
= Koefisien Regresi (multiplier ekspor)
Dari
persamaan regresi tersebut dihitung multiplier ekspor yang diperoleh dari angka
koefesien regresi tersebut. Karena multiplier ekspor adalah angka yang
menunjukkan berapa besar perubahan PDB akibat adanya perubahan nilai ekspor.
Multiplier ekspor adalah perbandingan nilai pertambahan PDB dengan nilai
pertambahan ekspor (Δ PDB / Δ ekspor atau dy) dx Dari persamaan regresi
tersebut dihitung multiplier ekspor yang diperoleh dari angka koefesien regresi
tersebut. Karena multiplier ekspor adalah angka yang menunjukkan berapa besar
perubahan PDB akibat adanya perubahan nilai ekspor. Multiplier ekspor adalah
perbandingan nilai pertambahan PDB dengan nilai pertambahan ekspor.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Peranan
ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia dapat dilihat sebagai
berikut :
1.
Peranan total ekspor
terhadap PDB
2.
Peranan total ekspor
migas terhadap PDB
3.
Peranan total ekspor
non migas terhadap PDB
Perkembangan
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama periode 1993 – 2008 dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 1993 – 2008 (miliar rupiah).
Data
PDB tahun 1993-2001 berdasarkan harga konstan tahun 1993 dan data PDB tahun
2002-2008
berdasarkan
harga konstan 2000. Rata-rata laju pertumbuhan PDB dengan Migas selama periode
2000
2008 adalah 6,43% per tahun. Rata-rata laju pertumbuhan PDB tanpa migas selama periode 2000-2008\
adalah 7,57 % per tahun.
Perkembangan
nilai ekspor migas, non migas dan total ekspor dapat dilihat pada tabel 2
berikut ini :
Dari
tabel 2 tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar nilai total ekspor
berasal dari ekspor non
migas
yaitu berkisar antara 73,53%-83,88%
selama periode 1993-2008. Sedangkan nilai ekspor migas
berkisar
antara 16,12%-26,47% dari total
ekspor.
minyak
dan gas alam selama periode 1993 – 2008 dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini
:
Tabel
Perkembangan
ekspor migas menurut kelompok produk yang dihasilkan tahun
1993 – 2008 (juta US $).
Dari
tabel 3 tersebut dapat diketahui kontribusi nilai ekspor minyak mentah terhadap
total ekspor migas pada tahun 1993 sebesar 4.778,4 juta US $ (49.03%) dan pada
tahun 2008 sebesar 12.418,7 juta US $ (42,64%). Kontribusi nilai ekspor hasil
minyak terhadap total ekspor migas pada tahun 1993 sebesar 914,3 juta US $
(9,38%) dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 3.547,0 juta US $ (12,18%). Kontribusi
nilai ekspor gas alam terhadap total migas sebesar 4.052,7 juta US $ (41,58%)
dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 13.160.5 Juta US $ (45,18%). Perkembangan
niali ekspor non migas menurut kelompok produk yang dihasilkan yaitu hasil
pertanian, hasil industry, hasil tambang dan produk lainnya tambah pasir alam
dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :
Dari
tabel 4 tersebut dapat diketahui kontribusi nilai ekspor hasil pertanian
terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 2644,2 juta US $
(9,64%) dan pada tahun 2008 sebesar 4584,6 juta US $ (4,25%). Kontribusi nilai
ekspor hasil industri terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993
sebesar 23292,0 juta US $ (84,93%) dan pada tahun 2008 sebesar 88393,5 US $
(81,93%). Kontribusi nilai ekspor hasil tambang total nilai ekspor non migas
pada tahun 1993 sebesar 1463,9 juta US $ (5,34%) dan pada tahun 2008 sebesar
14906,1 juta US $ (13,82%). Kontribusi nilai ekspor lainnya + pasir alam
terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 1993 sebesar 25,2 juta US $ (0,09%)
dan paa tahun 2008 menjadi 10,0 juta US $ ( 0,009%).
Dengan
menggunakan data PDB dengan migas dan data nilai total ekspor tahun 1993 – 2008
diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
Y
= -1.398.000 + 47.423 X i
(16,358)
Koefisien korelasi r = 0,975
Koefisien Determinasi R2 = 0,95
Angka
dalam kurung nilai t hitung
Koefisien
regresi bernilai 47,423 berarti setiap kenaikan nilai ekspor satu juta US $,
maka nilai PDB akan meningkat sebesar 47,423 miliar rupiah. Angka koefisien
regresi juga merupakan angka multiplier ekspor. Dari persamaan tersebut dapat
diperkirakan angka elastisitas ekspor terhadap PDB.
E
= dy.  ̄x = 47,423 . 6.6800 =
1,79
dx
 ̄y 1770100
angka
elastisitas total ekspor 1,79 berarti setiap kenaikan nilai total ekspor 1%,
maka PDB akan naiksebesar 1,79%.
Tabel 5 :
Angka multiplier ekspor dan elastisitas ekspor di Indonesia menurut komiditi
ekspor
KESIMPULAN
1.
Perkembangan nilai
ekspor baik migas maupun non migas di Indonesia selama periode 1993-1997 terus
meningkat dan pada tahun 1998,1999 dan 2001 menurun, tetapi pada tahun
2002-2008 terus meningkat. Nilai ekspor terbesar berasal dari ekspor non migas.
2.
kontribusi ekspor
minyak mentah, hasil minyak dan gas alam terhadap nilai ekspor migas pada tahun
1993- masing-masing 49,03%, 9,38%,
41,58%, dan pada tahun 2008 masing-masing 42,64%, 12,18%, dan 45,18%.
3.
Kontribusi nilai
ekspor hasil pertanian, hasil industry dan hasil tambang diluar migas terhadap ekspor
pada non migas tahun 1993 masing-masing 9,64%,
84,93%, 5,34%, dan pada tahun 2008 masing-masing 4,25%, 81,93% dan 13,82%.
4.
Peranan ekspor yang
dilihat dari angka multiplier dan angka elastisitas ekspor terhadap PDB menunjukkan
angka multiplier ekspor relative cukup besar, demikian pula angka elastisitas ekspor
lebih besar dari 1, kecuali elastisitas ekspor hasil tambang diluar migas
sebesar 0,94%.
“PEMBANGUNAN EKONOMI YANG MENJAMIN KEBERLANJUTAN EKSISTENSI ALAM DAN KESEIMBANGAN LINGKUNGAN HIDUP”
Jurnal Sumber Daya Alam
“PEMBANGUNAN EKONOMI YANG MENJAMIN KEBERLANJUTAN EKSISTENSI ALAM DAN KESEIMBANGAN LINGKUNGAN HIDUP”
Disusun Oleh :
Kelompok
Afiaty Rizki (20212298)
Citra Chandramita (21212626)
Kartika Ratna Sari (24212034)
Megi Nugrahawan (24212521)
Olga Delias Saputri (25212595)
KELAS 1EB08
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia (softskill)
Dosen : Ibu Zaidatun Ekastuti
PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Perekonomian
merupakan hal penting yang harus senantiasa dikembangkan karena menyangkut hidup
orang banyak. Namun, di tengah maraknya pembangunan perekonomian sekarang ini,
terjadi masalah dilematis yang cukup rumit, yaitu menyangkut pembangunan perekonomian
pada satu sisi dan pelestarian alam pada sisi yang lain. Berkurangnya
sumber daya alam, polusi pabrik dan alih fungsi lahan hijau menjadi lahan
perekonomian, merupakan contoh akibat dari pembangunan ekonomi yang tidak selaras
dengan pelestarian alam.
Pembangunan
ekonomi berwawasan lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan dibidang ekonomi yang
tidak hanya berorientasi hasil untuk saat ini tetapi juga berorientasi padamasa
depan dengan titik fokus pada keberlangsungan pelestarian lingkungan,
sebagaimana diketahui
bahwa barometer keberhasilan sebuah pembangunan adalah keselarasan antara pertumbuhan ekonomi
yang tinggi dan pembangunan berkesinambungan yang ditandai dengan tidak
terjadinya kerusakan sosial dan kerusakan alam. Oleh karena itu, pembangunan
ekonomi berwawasan
lingkungan harus diterapkan demi keberlanjutan kehidupan
Secara
ringkas dapat dikatakan bahwa pembangunan ekonomi yang semata-mata ditujukan untuk
memperoleh keuntungan tanpa memperhatikan keberlangsungan alam dan lingkungan
akan membawa dampak negatif tidak hanya bagi alam tetapi juga bagi masyarakat.
Salah satu dampaknegatif yang ditimbulkan adalah berkurangnya sumberdaya alam,
pencemaran udara akibat polusiindustri dan pembangunan infrastruktur yang
identik dengan perusakan alam. Namun, hal tersebut dapat dicegah dengan
menerapkan program pelaksanaan pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan.
Katrin Retno Gupito
Johanna M. Kodoatie1
(Mahasiswa IESP Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Diponegoro)
Pembangunan
ekonomi berjalan hampir beriringan dengan menurunnya daya tahan dan fungsi
lingkungan hidup, pembangunan yang terlalu berorientasi dalam mengejar
pertumbuhan seringkali mengabaikan aspek pengelolaan lingkungan. Pembangunan
yang bertujuan mensejahterakan masyarakat pada akhirnya justru menjadi perusak
sistem penunjang kehidupan dalam hal ini lingkungan hidup. Pembangunan harus
tetap berjalan dengan tidak melupakan pengelolaan lingkungan hidup, secara umum
pembangunan yang berkelanjutan bertumpu pada ekonomi, lingkungan hidup, dan
sosial budaya. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup, tetapi
dibutuhkan pembangunan yang berwawasan atau ramah lingkungan hidup (Todaro, 2009).
Pembangunan ekonomi yang ada telah banyak mencemarkan
alam sekitar, serta mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Masalah lingkungan
hidup sebenarnya sudah ada sejak dahulu, dan bukanlah masalah yang hanya
dimiliki atau dihadapi oleh kabupaten/kota maju ataupun yang miskin, tapi
masalah lingkungan hidup merupakan masalah bagi seluruh daerah. Penurunan
kualitas lingkungan dapat terjadi akibat emisi yang berasal dari industri,
transportasi, pertanian dan kehutanan. Sebagian besar daerah yang sedang berkembang
mulai beralih dari yang berfokus pada sektor pertanian menjadi sektor industi,
tentunya yang bertujuan untuk meningkatkan PDRB dari sektor industri terhadap
PDRB perkapita (Ananta,1990). Gas rumah kaca berasal dari beberapa sumber
dilihat dari beberapa sektor, yaitu :
- Sektor Industri : kegiatan pabrik pabrik industri, cerobong asap rumah produksi, limbah hasil pengolahan.
- Sektor transportasi: pengeluaran gas pembakaran alat bantu
- Sektor kehutanan : kegiatan pengrusakan/ pembakaran hutan, penebangan hutan, perubahan kawasan hutan menjadi bukanhutan, menyebabkan lepasnya sejumlah emisi GRK yang sebelumnya disimpan di dalam pohon.
- Sektor pertanian: Dari sektor pertanian, emisi GRK terutama metana dihasilkan dari sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk, pembakaran padang sabana dan pembusukan sisa-sisa pertanian.
Sektor kehutanan mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap emisi CO₂ di Indonesia. Emisi tersebut dari sektor kehutanan terkait dengan proses deforestasi (landuse, land use change, and forestry) yang disertai dengan kebakaran hutan. Bank Dunia (2009) mengestimasi alih fungsi lahan (land use change) dan deforestasi di Indonesia sekitar 2 juta hektar per tahun. Secara lebih detail, Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) mencatat laju perubahan kehutanan besar besaran di Indonesia sekitar 1 juta hektar per tahun sepanjang tahunnya.
Menurut Badan Lingkungan Hidup Sektor kehutanan menjadi salah satu topik yang menarik untuk diperbincangkan dalam konteks perekonomian Internasional. Pasalnya sektor ini memiliki beberapa alasan, antara lain:
- Permintaan terhadap produk-produk kehutanan selalu meningkat. Meskipun demikian,perdagangan atas produk kehutanan tidak banyak yang diperdagangkan dalam pasarglobal dan hanya terfokus pada konteks regional sehingga diperlukan perluasan pasar.
- Produksi kehutanan yang berasal dari hutan tropis hanya memiliki porsi kecil dalam pasar global.
“Hak-hak Masyarakat Adat dan
Masalah serta Kelestarian Lingkungan Hidup di Indonesia”
Sandra Moniaga
Dalam
kaitannya dengan permasalahan lingkungan hidup, sebagian kelompok memposisikan
mereka sebagai kelompok yang diidealkan dalam berhubungan dengan alam dengan
menekankan pada realita akan adanya hubungan spiritualitas dari
masyarakat-masyarakat adat dengan alam. Sedangkan kelompok lain, termasuk
pemerintah orde baru, mereka dianggap sebagai penghambat utama dari
perkembangan “kemajuan” khususnya dari segi ekonomi.
Di Indonesia, kita seharusnya merasa beruntung dengan
adanya masyarakat-masyarakat adat yang barangkali berjumlah lebih dari seribu kelompok.
Keberadaan mereka merupakan suatu kekayaan bangsa karena artinya ada lebih dari
seribu ragam ilmu pengetahuan yang telah mereka kembangkan. Ada lebih dari
seribu bahasa yang telah dimanfaatkan dan dapat membantu pengembangan khasanah
bahasa Indonesia dan masih banyak lagi hal lain yang
Dimensi lain dari hubungan masyarakat adat dan
lingkungan adalah adanya kenyataan dimana sebagian masyarakat adat juga ikut
bekerja bersama pihak-pihak yang mengembangkan kegiatan yang merusak
lingkungan. Dalam hal ini ada individu-individu yang terlibat dalam kegiatan
pembabatan hutan dan penambangan skala besar baik sebagai karyawan maupun
sebagai perorangan danatau kelompok masyarakat yang tidak memiliki alternatif
sumber pendapatan lain.Dalam konteks ini, sejauh kegiatan tersebut bukan
merupakan keputusan kolektif dari masyarakat adat yang bersangkutan maka
haruslah ditempatkan sebagai kegiatan dan tanggung jawab individual dari
pelakunya. Sedangkan apabila kegiatan tersebut memang diputuskan sesuai adat
mereka, maka haruslah diterima sebagai keputusan kelompok yang bersangkutan dan
bukan merupakan tanggung jawab dari seluruh masyarakat adat.
Betul sudah ada kemajuan dalam hal kebebasan
berekspresi, berkumpul dan berorganisasi dirasakan banyak pihak. Namun belum
ada perubahan mendasar dari politik ekonomi pengelolaan sumber daya alam di
negeri ini. Istilahnya, masih business as ussual. Belum terasa adanya angin
reformasi di sector kehutanan, pertambangan, mineral dan energi apalagi di
kelautan dan perikanan yang baru ‘digarap’. Padahal amandemen UUD 1945 kedua
dan ketiga mulai mengakui hak-hak masyarakat adat (yang terkadang disebut
sebagai masyarakat hukum adat, di pasal lain sebagai masyarakat tradisional).
Serta Sidang Tahunan MPR bulan Nopember lalu telah menetapkan Tap. No.
IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang
antara lain dalam pasal 4 menetapkan prinsip: “melaksanakan fungsi sosial,
kelestarian, dan fungsi ekologis sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat” dan
“mengakui, menghormati, dan melindungi hak masyarakat hukum adat dan keragaman
budaya bangsa atas sumber daya agraria/sumber daya alam”. Memperbaharui kelembagaan
dan program yang nyata dan dapat menjawab permasalahan kemiskinan, konflik,
ketimpangan dan ketidakadilan sosial-ekonomi rakyat serta kerusakan ekosistem.
(TumbuSaraswati, 2001)
Pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat,
termasuk masyarakat adat, seharusnya dijadikan paradigma acuan dalam
menerjemahkan penghormatan hak-hak asasi masyarakat adat dan pelestarian
lingkungan sebagai jawaban atas permasalahan selama ini terjadi. Ibarat ratusan
perpustakaan yang sedang terbakar, demikian kondisi masyarakat adat kita dengan
kekayaan pengetahuan mereka dalam mengelola serta hidup dengan lingkungan
secara bersahabat. Selagi belum terlambat, mari segera kita selamatkan. Tanpa
ada perubahan paradigmatis dan pembenahan atas berbagai peraturan perundangan, kelembagaan
dan program yang terkait maka amandemen UUD 1945 dan pengesahan Tap
IX/MPR-RI/2001 hanyalah tirai asap lain atas impunity, pelanggaran HAM dan
perusakan lingkungan yang sistematik.
“ Paradigma Baru Pembangunan
Indonesia Berbasis Kelautan”
Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri
(Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dun Lautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB)
Orasi
ilmiah yang diberi judul "Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis
Kelautan" ini menggagas paradigma pembangunan bangsa berbasis kelautan
yaitu paradigma pembangunan yang memberi arahan dalarn pendayagunaan sumberdaya
kelautan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi (kemakmuran), pemerataan
kesejahteraan (keadilan sosial), dari terpeliharanya daya dukung ekosistem
pesisir dan laut secara seimbang. Rumusan paradigma pembangunan disusun
berdasarkan pada potensi, peluang, permasalahan, kendala dan kondisi pembangunan
kelautan yang ada, juga mempertimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap
pembangunan nasional seperti otonomi daerah dan globalisasi.
Adalah fakta fisik yang tak terbantahkan bahwa wilayah
lndonesia berupa laut, ditaburi dengan 17.500 lebih pulau, yang dirangkai oleh
garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang kedua
di dunia setelah Kanada. Bentangan jarak dari wilayah darat di ujung barat (Sabang)
ke ujung timur (Merauke) sebanding dengan dari London sarnpai ke Baghdad
(timur). Sedangkan rentang wilayah darat dari ujung utara (Pulau Miangas, Kabupaten
Sangihe Talaud) sampai ke ujung selatan (Pulau Rote) hampir sama dengan jarak antara
utara di Jerman hingga ke selatan di Aljajair (Soegondo dalam Suryanegara, 2000).
Lebih dari itu, laut besarnya kawasanpesisir yang mengitarinya mengandung
potensi ekonomi (pembangunan) yang sangat besar dan beraneka-ragam. Oleh karenanya,
masyarakat dunia mengenal Indonesia sebagai negara bahari dan kepulauan
terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati laut terbesar (mega marine
biodiversity) (Polunin,1983). Kondisi geografis ini dilengkapi dengan kenyataan
bahwa letak Indonesia berada pada posisi geopolitis yang strategis yakni Lautan
Pasifik dan Lautan Hindia-sebuah kawasan paling dinamis dalam masa dan
percaturan politik, pertahanan dan keamanan dunia. Dengan alasan geo-ekonomi dan
geo-politik tersebut seharusnya sudah cukup hebat, bila pembangunan kelautan
selayaknya menjadi aset utama (mainstream) pembangunan nasional. Di samping itu
banyak argumen lain yang memperkuat mengapa pembangunan berbasis kelautan
seharusnya dijadikan aset utama pembangunan nasional kita baik secara ekonomi,
politik, sosial dan budaya. Pertama, karena sumber daya kelautan yang sangat
berlimpah dan kaya maka Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang sangat
tinggi.
Industri yang berbasis sumberdaya kelautan memiliki
keterkaitan ( backward and forward lingkage) yang sangat hat dengan industri
dan aktifitas ekonomi lainnya, sehiigga mengembanggakan industri berbasis
kelautan berarti juga menghidupkan dan mendorong aktifitas ekonomidi sektor
lainnya. Ini termasuk usaha komunikasi, perdagangan, pengolahan,dan jasa-jasa
lainnya.
Sumberdaya kelautan sebagian besar merupakan sumberdaya
yang senantiasa dapat diperbarui (renewable resources) sehingga keunggulan
komparatif dan kompetitif ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang asal diikuti
dengan pengelolaan yang arif.
Dari aspek politik-dengan kondisi geopolitis sebagaimana
disebutkan maka stabilitas politik dalam negeri dan luar negeri dapat tercapai
bila kita memiliki jaminan keamanan dan pertahanan dalam menjaga wilayah
kedaulatan perairan kita.
Dari sisi sosial
dan budaya-sebenarnya menjadi pembangunan berbasis kelautan sebagai arus utama
pembangunan bangsa kembali (reinventing) aspek kehidupan yang pernah secara
dominan ada dalam budaya dan tradisi kita sebagai bangsa. Sejarah mencatat
bahwa dalam beberapa abad lamanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban
yang berada di wilayah Nusantara ini memiliki kekuatan ekonomi dan politiknya
dengan berbasis pada sumber daya kelautan. Pada saat itu, laut telah menjadi
media hubungan nasional dan internasional, serta menjadi kawasan penting secara
politik, ekonomi dan militer pada tingkat dunia.
Tawaran
pembangunan berbasis kelautan dijadikan alasan utama dalam pembangunan bangsa
kita rnerupakan suatu ha1 yang wajar, relevan dan suatu keniscayaan. Namun
tentu ada suatu pertanyaan apa dan berbasis sumberdaya kelautan dalam kontek
pembangunan nasional selama ini. Justru disinilah ironi dan kenyataan pahit yang
barus kita akui bahwa selama ini atau setidaknya dalam tiga dasawarsa lebih
kita melaksanakan pembangunan nasional dengan lebih terencana dan sistematis,
tetapi pembangunan berbasis sumberdaya kelautan masih diabaikan. Singkatnya,
sebelum era reformasi pembangunan berbasis kelautan dianggap sebagai sektor
pinggiran. Dan, jika perkembangan dan kinerja sektor ekonomi berbasis kelautan
ini jauh dari potensi yang dimiliki dan jauh dari harapan bangsa ini, kala itu
merupakan harga yang harus dibayar karena kelalaian serta ignorance kita
sendiri sebagai bangsa di masa lalu.
PENCAPAIAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN KELAUTAN
PENCAPAIAN HASIL-HASIL PEMBANGUNAN KELAUTAN
Dibandingkan dengan potensi dan peranan sumberdaya
kelautan yang sedemikian besarnya sebagaimana diuraikan sebelumnya, pencapaian
hasil-hasil (achieuenzent) pembangunan berbasis kelautan yang selama ini dilakukan
sungguh masih jauh dari optimal. Pencapaian hasil-hasil pembangunan di sektor
yang berbasis sumberdaya kelautan selama ini memberikan gambaran yang beragam.
Dari ketujuh sektor yang dapat digolongkan sebagai lapangan-lapangan usaha di
bidang kelautan yaitu (1) perikanan, (2) pariwisata bahari, (3) peanambangan dan
energi, (4) industri maritime (5) transportasi laut, (6) bangunan kelautan dan
(7) jasa kelautan, nampak bahwa masing-masing sektor mencapai hasil yang
berbeda. Dari ketujuh sektor tersebut, hanya pertambangan dan energi yang telah
memberikan hasil dan sumbangan yang nyata terhadap perekonomian bangsa.
Sementara sektor perikanan dan pariwisata walaupun secara potensial sangat
besar, hasil-hasil yang dicapai mash jauh dari harapan. Demikian pula halnya
dengan sektor perhubungan laut, bangunan kelautan, industri maritim dan
jasa-jasa kelautan lainnya belum berkembang secara optimal, dan bahkan jauh
terlinggal. Padahal justru dari sumbangan sektor perikanan dan pariwisata
bahari itu sebenarnya kita akan dapat memperoleh manfaat yang lebih panjang dan
berkelanjutan, mengingat bahwa sumberdaya perikanan dan pariwisata bahari
mempakan sumberdaya yang bersifat renewable resources. Di samping itu sektor
perikanan dan pariwisata bahari juga dapat memberikan manfaat lain yang kurang
dapatdisumbangkan sector pertambangan dan energi, yaitu selain menciptakan
pertumbuhan, pada saat yang sama juga dapat mendorong terciptanya pemerataan
secara lebih adil.
KESIMPULAN
Perekonomian
harus selalu mengalami perkembangan karna menyangkut kehidupan masyarakat. Ditengah maraknya
pembangunan perekonomian di negara kita, terselip masalah yang cukup rumit,
yaitu antara ketidakseimbangan pembangunan disatu sisi dan masalah peletarian
alam disisi lain. Contoh akibat dari masalah ini adalah pencemaran, pengeksploitasian
sumber daya alam, alih fugsi lahan hijau menjadi ladang menghasilkan uang.
Pembangunan ekonomi berwawasan
ligkungan merupakan pembangunan keberlanjutan dibidang ekonomi yang
berorientasi pada masa depan dan terfokus pada pelestarian dilingkungan. Hal
antara keselarasan pembangunan dan lingkungan itulah yang menjadi barometer
keberhasilan pembangunan.
Pembangunan
ekonomi yang ada telah
banyak mencemarkan alam sekitardan menurunkan kulitas lingkungan. Masalah ini menjadi tanggung
jawab kita bersama dalam rangka menciptakan kemajuan pembangunan dan keasrian
lingkungan.
Perindustrian
di Indonesia berkembang pesat dengan semakin banyaknya pabrik yang berdiri
disetiap daerah, namun mereka
menghasilkan limbah yang mencemarkan lingkungan dan polusi yang menghasilkan
hujan asam. Walaupun sektor Industri mendatangkan keuntungan besar, hujan asam
yang timbul tersebar
di udara dapat merusak tanaman dan tanah sehingga hasil yang didapat tidak
bagus bahkan kurang baik jika dikonsumsi manusia.
Karna itu menurut kelompok
kami alangkah baiknya jika sector industry maupun sector lainnya yang
memanfaatkan Sumber Daya Alam bisa menyeimbangkan antara produksi perindustrian
yang terus menerus dengan kondisi alam yang tetap bisa terjaga dan terus
berkembang, tidak hanya mengambil dan memanfaatkannya saja. Selain itu juga
bisa dilihat dampak negative atau positif baik dari segi jangka panjang maupun
jangka pendeknya.
Langganan:
Postingan (Atom)




